Tuesday, October 18, 2016

Pura Batukaru

Pura Batukaru (Pura Luhur Batukaru) adalah sebuah tempat suci Hindu yang terletak tepat di lereng gunung Batukaru Bali, selain sebagai tempat untuk bersembahyang yang sangat di sucikan oleh masyarakat Hindu Bali. Pura Batukaru juga terkenal sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bagi anda yang sedang liburan di Bali, mungkin bisa mencoba merasakan suasana tenang, damai serta segarnya udara pegunungan dengan mengunjungi obyek wisata Pura Batukaru ini.

Pura Batukaru terletak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Kurang lebih 46 Kilometer dari kota Denpasar, lokasi Pura Luhur Batukaru terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru.

Kemungkinan besar nama Pura Batukaru diambil dari nama Gunung Batukaru itu sendiri. Pura Luhur Batukaru adalah selain sebagai tempat suci agama Hindu juga sebagai salah satu objek wisata yang sangat digemari oleh wisatawan yang ingin menikmati kesegaran dan kedamaian yang terdapat di kawasan Pura Batukaru ini, biasanya wisatawan akan mengunjungi pura Batukaru setelah/sebelum mereka mengunjungi tempat wisata sawah terasering Jatiluwih karena letak kedua objek wisata ini tidak terlalu jauh.

Di kawasan Pura Batukaru ini kita tidak akan menjumpai toko-toko suvenir, warung ataupun artshop seperti tempat wisata lainnya sehingga di kawasan Pura Batukaru ini memang sebuah tempat yang jauh dari kebisingan dan kesuciannya selalu dijaga oleh masyarakat Bali. Wisatawan yang ingin mengunjungi Pura Luhur Batukaru ini harus menggunakan pakaian yang sopan agar kesucian pura tetap terjaga.

Pura Batukaru kemungkinan sebelumnya sudah dijadikan tempat pemujaan dan tempat bertapa oleh tokoh-tokoh spiritual di daerah Tabanan dan Bali pada umumnya. Pandangan tersebut didasarkan pada adanya penemuan sumber-sumber air dengan berbagai jenis arca Pancuran. Dari adanya sumber-sumber mata air tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah ini pernah dijadikan tempat untuk bertapa bagi para pertapa (Wanaprastin) untuk mencari kedamaian hidupnya.


Sejarah Pura Luhur Batukaru

Informasi tentang sejarah Pura Luhur Batukaru ini sangat minim dan belum diketahui pasti siapa pendiri dan kapan berdiri nya, tetapi Pura Batukaru ini termasuk di dalam salah satu dari enam pura utama (Sad Kahyangan) di pulau Bali seperti yang disebutkan di dalam Lontar Kusuma Dewa.

Pura Luhur Batukaru sudah ada pada abad ke-11 Masehi, sezaman dengan Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat. Penggagas pembentukan dari Sad Kahyangan adalah Mpu Kuturan.

Setelah keberadaan Pura Batukaru pada abad ke-11 tersebut kita tidak mendapat keterangan dengan jelas bagaimana keadaan pura tersebut. Baru pada tahun 1605 Masehi ada keterangan dari kitab Babad Buleleng. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Pura Luhur Batukaru pada tahun tersebut di atas dirusak oleh Raja Buleleng yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

Dalam kitab babad tersebut diceritakan bahwa Kerajaan Buleleng sudah sangat aman dan tidak ada lagi musuh yang berani menyerangnya. Sang Raja ingin memperluas wilayahnya ke daerah Tabanan. Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dalam perjalanan menuju ke Tabanan bertemu dengan daerah Batukaru yang merupakan wilayah daerah Kerajaan Tabanan.

Ki Gusti Ngurah Panji Sakti bersama prajuritnya kemudian merusak Pura Luhur Batukaru tersebut, ketika Ki Panji Sakti dan prajuritnya merusak Pura Batukaru tiba-tiba datang ribuan tawon yang ganas menyerang dan menyengat mereka. Ki Panji Sakti beserta prajuritnya diserang habis-habisan oleh tawon yang ganas itu, kemudian Ki Panji Sakti dan prajurit nya mundur dan membatalkan niatnya untuk menyerang kerajaan Tabanan. Berkat ulah Ki Panji Sakti dan prajuritnya tersebut maka bangunan pelinggih Pura Batukaru rusak total dan tinggal puing-puing saja.

Baru kemudian pada tahun 1959 Pura Luhur Batukaru mendapat perbaikan sehingga bentuknya seperti sekarang ini. Pada tahun 1977 secara bertahap barulah ada perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah dan sampai sekarang keadaan dan kondisi Pura Batukaru sudah semakin baik.

Di Pura Luhur Batukaru ini selain terdapat bangunan utama, di sebelah timur nya juga terdapat sumber mata air yang terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang berlokasi di dalam pura (jeroan) yang dipergunakan khusus untuk memohon air suci (tirtha) untuk keperluan upacara dan bagian yang kedua adalah untuk kepentingan mandi dan cuci muka sebagai pembersihan diri sebelum melakukan persembahyangan.

Di pura ini Dr. R. Goris, seorang ahli ilmu arkeologi, pernah mengadakan penelitian pada tahun 1928. Goris banyak menjumpai patung-patung yang jenisnya serupa dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah yaitu patung yang mengeluarkan pancuran air dari pusarnya. Bedanya patung yang terdapat di Goa Gajah itu dalam posisi berdiri, sedangkan yang di Pura Batukaru dalam posisi duduk bersila.

Menurut Goris, patung yang terdapat di Batukaru sejaman dengan patung yang terdapat di Pura Goa Gajah.Bangunan suci (Pelinggih) utama di Pura Batukaru adalah berbentuk Candi bukan Meru seperti kebanyakan pura yang ada di Bali. Ini sangat jelas dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Timur dan India.


Upacara Piodalan Pura Batukaru

Pujawali atau Upacara piodalan di pura ini jatuh setiap 210 hari sekali yaitu pada hari Kamis, Wuku Dungulan (kalender Bali), satu hari setelah hari raya Galungan. Suatu hal yang unik di Pura Luhur Batukaru adalah pada saat proses upacara dilakukan dan upacara besar lainnya tidak pernah dipimpin oleh Pendeta/Pedanda. Upacara hanya dipimpin oleh Pemangku yang disebut Jero Kubayan.

Bagi mereka yang ingin sembahyang ke Pura Luhur Batukaru sangat direkomendasikan terlebih dahulu untuk bersembahyang di Pura Jero Taksu. Pura Jero Taksu terletak agak jauh dari Pura Batukaru.Tujuan persembahyangan di Pura Jero Taksu adalah untuk memohon agar proses sembahyang yang akan dilakukan nanti di Pura Luhur Batukaru akan mendapatkan keberhasilan dan tanpa rintangan.

Pura Taksu ini merupakan bagian dari Pura Luhur Batukaru. Setelah itu barulah kemudian menuju ke pancuran dari mata air yang letaknya di bagian tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam areal Pura Batukaru.

Pancuran dari mata air ini adalah bertujuan untuk menyucikan diri kita dengan berkumur, cuci muka dan cuci kaki, kemudian dilanjutkan dengan bersembahyang di Pelinggih yang ada di mata air tersebut sebagai tanda penyucian lahir batin (Skala dan Niskala) sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan jasmani dan rohani yang bersih dan suci.

Pura Luhur Batukaru adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Dewa Mahadewa. Karena fungsinya untuk memuja Tuhan sebagai Dewa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan mempergunakan air secara benar, maka di Pura Batukaru ini disebut sebagai pemujaan Tuhan sebagai Ratu Hyang Tumuwuh (sebutan Tuhan sebagai yang menumbuhkan).

Pura Batukaru juga adalah sebagai Pura Padma Bhuwana yaitu sembilan pura yang terdapat di sembilan penjuru Pulau Bali. Pura Padma Bhuwana sebagai lambang pemujaan Tuhan yang ada di mana-mana di sembilan penjuru alam semesta. Tidak ada bagian alam semesta ini tanpa kehadiran Tuhan. Keberadaan Tuhan seperti itulah yang diekspresikan di sembilan pura di Pulau Bali.

Batukaru Temple

Batukaru Temple Bali is a Hindu shrine which is located right on the slopes of Mount Batukaru Bali, in addition to as a holy place to pray for Balinese Hindu people, Pura Batukaru also famous as a tourist spot visited by many visitors, both domestic and foreign tourists. For those of you who are on holiday in Bali, you can try to feel the atmosphere of calm, peace with fresh mountain air by visiting this beautiful tourist attraction of Batukaru temple.

Batukaru temple is located in the village of Wongaya Gede, Penebel Sub-District, Tabanan Regency, Bali, approximately 46 KM from Denpasar city, the location of Pura Luhur Batukaru located in the western part of the island of Bali on the southern slope of Mount Batukaru. The name of Batukaru temple most likely taken from the name of Mt. Batukaru itself.

Pura Batukaru is apart as holy places of Hinduism as well as one of the very popular tourists attractions for those who wants to enjoy the peace and the freshness of mountain air, usually many tourists will visit the temple of Batukaru after/before they visit the tourist attractions Jatiluwih rice terraces because the location of this both attractions is not too far.

In this place, we will not find any souvenir shops, stalls or art shops like other tourist attractions in Bali, so that make this temple is a place that really away from the noise and its sanctity is always maintained by the people of Bali. The travelers who wish to visit Batukaru temple must use decent clothes so that the sanctity of the temple is maintained.

Batukaru temple possibility previously has been used as a place of worship and a place for meditation by spiritual figures in the Tabanan area and Bali in general. This presumption is based on the discovery of water sources with different types of shower statues. Of the sources of these springs can be concluded that the area was once used as a meditation place for ascetics (Wanaprastin) to find their peace life.


History Batukaru Temple Bali

Information about the history of Batukaru temple is very little and is not known for sure who is the founder and when was it built, but Batukaru temple is included in one of the six main temples (Sad Kahyangan) in Bali island as described in Kusuma Dewa papyrus manuscript.

Batukaru temple has already existed in the 11th century AD contemporaneous with Besakih temple, Lempuyang Luhur temple, Goa Lawah temple, Uluwatu temple and Pusering Jagat temple. The initiator of the establishment of Sad Kahyangan is Mpu Kuturan.

After the existence of Batukaru temple in the 11th century, and then we did not get a clear description of how was the state of the temple. Only in 1605 AD, there was a description from the book of Babad Buleleng, in the book explained that Batukaru temple was marred by the King of Buleleng named Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

In the book of Babad Buleleng is described that the kingdom of Buleleng is very safe and there is no enemy would dare to attack it. The King wants to expand its territory to Tabanan area. King Ki Gusti Ngurah Panji Sakti on his way to Tabanan meet Batukaru temple which is a territory of the Kingdom of Tabanan. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti together with his soldiers then undermine the temple.

When Ki Panji Sakti and his soldiers do damage in Batukaru temple, then suddenly came thousands of wasps to attack and sting them. Ki Panji Sakti and his soldiers were attacked severely by vicious wasps, and then Ki Panji Sakti and his soldiers withdrew and canceled the plan to attack the kingdom of Tabanan.

Because of their acts, then the condition of Batukaru shrine buildings was totally destroyed and only ruins remaining. Then in 1959 Batukaru temple get repairs so that the shape as what we see today. In 1977 there is attention and assistance from the local government gradually and until now the circumstances and conditions of Pura Batukaru are getting better.

Besides having the main building, in the eastern part of the Batukaru temple there is also temple and springs which consist of two parts, the spring located inside the temple (Jeroan) which is used specifically to invoke the holy water (tirtha) for ceremonial purposes, and the spring located outside the temple which is used to wash face and shower as cleansing before praying.

In this temple, Dr. R. Goris, an expert in the science of archeology, has conducted research in 1928. Goris met many statues similar to the statue of its kind available in the Goa Gajah Temple like statues that spouting water from its navel. The difference is that the sculptures found in Goa Gajah temple are in a standing position, while in Batukaru temple is in a sitting cross-legged position. According to Goris, the figurines found in Batukaru is contemporaneous with the sculptures found in Pura Goa Gajah.

Most temples in Bali are shaped like multiple roofed towers, it's similar in design to Chinese or Japanese pagodas (in Balinese is called Meru). But the main sacred building (Pelinggih) in Pura Batukaru is not like Meru but it's mostly like a vertical tower shaped like a pyramid pointed upward. This is very clearly influenced by the architecture of East Java and India.


Batukaru Temple Ceremony

The ceremony of Batukaru temple is held in every 210 days that is on every Thursday, wuku Dungulan (Balinese calendar), one day after Galungan day. One thing that is unique in Pura Luhur Batukaru is at the time of the ceremony or the other great ceremonies are never led by a priest (Pedanda/Pandita).

The ceremony is led only by Pemangku called Jero Kubayan. For those who want to pray to Batukaru temple is highly recommended to pray first in Pura Jero Taksu temple. Jero Taksu temple is located a bit away from Batukaru temple.

The purpose of praying in Jero Taksu Temple is to invoke that the process of prayer which will be done later in Batukaru Temple will get success and without obstacles. Jero Taksu temple is part of Batukaru Temple. Afterward, then headed to the showers of spring that is located in the southeastern part of the main temple, but remain in the area of Batukaru Temple.

The Shower of this spring is intended to purify ourselves by washing face and washing feet followed by praying at the shrine in the spring as a sign of purification of the inner and outer or the seen and unseen (Skala and Niskala) as the main requirement for worship can be done with physically and spiritually clean and pure.

Pura Luhur Batukaru is a holy place of worship the God in His manifestation as Lord Mahadeva (Mahadewa). Because its function is to worship God as the God who cultivate plants, then at this temple is referred to as the worship of the Lord as Ratu Hyang Tumuwuh (designation of God as the God who cultivate plants).

Batukaru Temple is also included as Padma Bhuwana Temple, Padma Bhuwana Temple is nine temples located in nine parts of the island. Pura Padma Bhuwana as a symbol of worship of God that exist everywhere in the nine corners of the universe. No part of this universe without God's presence. The existence of God as that expressed in the nine temples in Bali.

Pura Tanah Lot

Pura Tanah Lot adalah sebuah Pura Hindu di Bali Indonesia yang memiliki keindahan alam yang menakjubkan, berdiri di atas batu laut padat dan Tanah Lot Bali atau (Pura Tanah Lot) adalah salah satu Pura yang sangat terkenal di Bali dan menjadi salah satu tempat terbaik di Bali untuk menonton matahari terbenam.

Matahari Terbenam di Tanah Lot adalah salah satu pemandangan yang bisa dinikmati ketika mengunjungi tempat wisata ini. Tanah Lot Bali juga disebut Pura di laut Bali karena terlihat seperti mengambang di laut saat air laut pasang.

Pura Tanah Lot merupakan salah satu Pura yang sangat suci di pulau Bali, dan menurut legenda, Pura Tanah Lot Bali dilindungi oleh ular laut suci yang dibentuk dari syal pendirinya. Tanah Lot Bali adalah tempat yang romantis untuk mengunjungi sambil menikmati matahari terbenam ketika menghabiskan liburan di Bali Indonesia.

Tanah Lot berasal dari kata "Tanah" berarti tanah dan "Lot (lod / laut)" yang berarti laut, karena terletak di atas batu di laut dan menyerupai sebuah pulau kecil yang mengambang di laut, sehingga orang menyebutnya itu TANAH LOT, pura Tanah Lot terletak di desa Beraban, kecamatan Kediri, kabupaten Tabanan, di pantai selatan pulau Bali, sekitar 25 kilometer dari kota Denpasar.

Pura Tanah Lot terletak di atas batu karang besar yang menghadap Samudera Hindia. Tanah Lot adalah tempat suci Hindu yang dibangun untuk menyembah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa laut (Dewa Baruna) untuk memohon kemakmuran dan keseimbangan laut dan darat.


Sejarah Pura Tanah Lot

Sejarah Pura Tanah Lot terkait erat dengan perjalanan suci dari Blambangan (Pulau Jawa) ke pulau Bali dari seorang Rohaniawan suci yang disebut Danghyang Nirartha untuk menyebarkan ajaran Hindu, orang-orang juga menyebutnya Danghyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh. Penguasa pulau Bali pada waktu itu adalah Raja Dalem Waturenggong sekitar abad ke-16.

Dalam Dwijendra Tattwa dijelaskan bahwa pada satu waktu Dang Hyang Nirartha kembali ke Pura Rambut Siwi di perjalanannya sekitar Pulau Bali, di mana yang pertama ketika ia baru saja tiba di Bali dari Blambangan (pulau Jawa) pada Çaka 1411 atau 1489 Masehi, ia berhenti di tempat ini.

Setelah berada di Pura Rambut Siwi untuk sementara waktu, kemudian ia melanjutkan perjalanannya yang mengarah ke arah Timur (Purwa). Sebelum berangkat, Danghyang Nirartha melakukan Upacara "Surya Cewana" dengan orang-orang yang berada di sana. Setelah memercikkan air suci (Tirtha) terhadap orang-orang yang terlibat dalam melakukan ibadah, maka ia berjalan keluar dari Pura berjalan menuju Timur. Perjalanan menelusuri pantai Selatan pulau disertai oleh beberapa pengikut.

Dalam perjalanan ini, Dang Hyang Nirartha benar-benar menikmati dan terkesan dengan keindahan pantai selatan pulau Bali dengan keindahan alam yang sangat menarik. Dia membayangkan betapa kebesaran Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) yang telah menciptakan alam semesta dan segala sesuatu di dalamnya yang dapat memberikan kehidupan bagi umat manusia. Dalam hatinya berbisik bahwa tugas setiap makhluk di dunia ini, makhluk terutama manusia untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas semua yang telah berkenan untuk menciptakannya.

Setelah berjalan-jalan dan akhirnya ia tiba dan berhenti di sebuah pantai, pantai terdiri dari batu, bahwa batuan yang disebut Gili Beo, "Gili" berarti pulau kecil dan "Beo" berarti burung, sehingga Gili Beo berarti kecil pulau batu yang menyerupai burung.

Di daerah ini telah dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti yang menguasai di desa Beraban, maka di situlah Dang Hyang Nirartha berhenti dan istirahat, setelah beberapa saat istirahat dan kemudian datang para nelayan yang ingin bertemu dengan dia dan membawa berbagai persembahan untuk dia.

Kemudian setelah sore hari, para nelayan memohon padanya untuk menghabiskan malam di rumah mereka. Namun, semua permohonan itu ditolak oleh beliau dan beliau lebih suka menghabiskan malam di Gili Beo karena dari sana dia bisa menikmati udara segar, pemandangan indah dan melepaskan pandangan bebas ke segala arah.

Pada malam sebelum dia pergi untuk beristirahat, ia memberi ajaran agama, moral, dan ajaran kebajikan lainnya kepada orang-orang yang datang ke sana, tapi kehadiran Dang Hyang Nirartha tidak disukai oleh Bendesa Beraban Sakti karena ajaran-ajarannya tidak sesuai dengan ajaran yang disebarkan oleh Dang Hyang Nirartha, dan ini menyebabkan Bendesa Beraban Sakti menjadi marah dan mengajak pengikutnya untuk mengusir Danghyang Nirartha.

Kemudian, untuk melindungi diri dari agresi Bendesa Beraban Sakti, Danghyang Nirartha pindah Gili Beo ke laut dan ia menciptakan ular dari selendang untuk selalu menjaga Gili Beo aman dari serangan berbahaya. Dan setelah saat itu Gili Beo berubah nama menjadi Tanah Lot (tanah di laut).

Setelah melihat keajaiban Danghyang Nirartha, Bendesa Beraban Sakti akhirnya menyerah dan menjadi pengikut setia-Nya untuk mengajar agama Hindu kepada penduduk, dan untuk jasanya Dang Hyang Nirartha memberikan Kris untuk Bendesa Beraban Sakti sebelum melanjutkan perjalanannya (adalah ciri khas, belati asimetris dari Indonesia. Keris merupakan senjata dan benda spiritual, keris sering dianggap memiliki kekuatan magis. Keris awalnya dikenal dibuat sekitar 1360 dan paling mungkin menyebar dari pulau di seluruh Asia Tenggara).

Kris diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti disebut Jaramenara atau Kris Ki Baru Gajah, sampai saat ini Keris Ki Baru Gajah masih ada dan disimpan serta disucikan di Puri Kediri, Tabanan.

Pada saat itu Danghyang Nirartha menyarankan orang-orang untuk membangun sebuah Pura (parahyangan) di Tanah Lot karena menurut getaran batin-Nya yang suci dan bimbingan supranatural bahwa tempat ini adalah tempat yang baik untuk bersembahyang kepada Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan), dari tempat ini maka orang bisa memuja kebesaran dari Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa laut untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan dunia.

Ada 8 Pura suci di sekitar daerah Tanah Lot, masing-masing dengan fungsi dan tujuan sendiri.
  1. Pura Penataran - terletak di sebelah utara Pura Tanah Lot, itu adalah tempat untuk berdoa kepada Tuhan dan manifestasinya untuk kebahagiaan dan kesehatan.
  2. Pura Penyawang - terletak di sisi barat dari Pura Penataran, itu adalah tempat alternatif untuk berdoa selama pasang tinggi ketika orang tidak dapat mencapai Pura Tanah Lot, mereka dapat berdoa dari sini untuk tujuan yang sama.
  3. Pura Jero Kandang - terletak di sekitar 100 meter di sisi barat Pura Penyawang, itu dibangun untuk berdoa bagi kesehatan ternak dan tanaman.
  4. Pura Enjung Galuh - terletak dekat dengan Pura Jero Kandang, itu dibangun untuk dewi kemakmuran (Dewi Sri) untuk orang-orang untuk berdoa bagi kesuburan tanah mereka.
  5. Pura Batu Bolong - terletak di sekitar 100 meter di sisi barat dari Pura Enjung Galuh. Batu Bolong berarti batu berlubang di Bali. Hal ini digunakan untuk mengadakan upacara Melasti atau upacara pemurnian.
  6. Pura Batu mejan - terletak di sekitar 100 meter di sisi barat dari Pura Batu Bolong, juga disebut Pura Beji. Beji berarti mata air suci di Bali. Orang percaya bahwa air suci dari musim semi ini dapat memurnikan sesuatu dari yang buruk.
  7. Monumen Tri Antaka - monumen ini dibangun untuk menghormati 3 orang heroik: I Gusti Ketut Kereg, I Wayan Kamias dan I Nyoman Regug, yang telah berjuang dan membela pulau melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) angkatan bersenjata Juni 1946 di wilayah Tanah Lot.
  8. Pura Pakendungan - terletak di sisi barat, sekitar 300 meter dari Pura Tanah Lot. Pura Pekendungan adalah tempat di mana Dang Hyang Nirartha bermeditasi sekali sebelumnya, dan di Pura ini keris suci diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti.

Di tahun 1980 permukaan batu Pura Tanah Lot ini mulai runtuh dan daerah sekitar di dalam Pura Tanah Lot mulai menjadi berbahaya. Ada beberapa proyek yang didukung oleh Jepang dan Jerman yang dilakukan untuk melestarikan Pura bersejarah ini.

Friday, October 14, 2016

Tanah Lot Temple

Tanah Lot temple is a Hindu temple in Bali Indonesia that has a stunning natural beauty, it stands on solid sea rock and Tanah Lot Bali or (Pura Tanah Lot) is one the very famous temples in Bali and became one of the top places in Bali to watch the sunset.

Tanah Lot sunset time is the best view that can be enjoyed when visiting this one of the most visited tourist attractions in Bali. Tanah Lot Bali is also called Bali temple in the sea because it looks like floating in the sea when high tide.

Tanah Lot temple is one of the very sacred temples in Bali island, and according to the legend, Tanah Lot Temple Bali is protected by holy sea snakes which was formed from the scarves of its founder. Tanah Lot Bali is a romantic place to visit while enjoying the sun goes down when spending the holidays in Bali Indonesia.

Tanah Lot is derived from the word "Tanah" means land and "Lot (lod / laut)" which means the sea, because it is situated on a rock in the sea and resembles a small island floating on the sea, so the people call it TANAH LOT, Tanah Lot temple is located at Beraban village, Kediri district, Tabanan regency, on the south coast of Bali island, approximately 25 kilometers from Denpasar city.

Pura Tanah Lot is situated on a large coral rock overlooking the Indian Ocean. Tanah Lot is a Hindu shrine built to worship the God in its manifestation as the God of the sea (God Baruna) to invoke prosperity and the balance of sea and earth.


Tanah Lot Temple History

The History Tanah Lot Temple closely related to the sacred journey from Blambangan (Java island) to Bali island of a holy monk called DangHyang Nirartha to spread the teachings of Hinduism, the people also call him DangHyang Dwijendra or Pedanda Sakti Wawu Rauh. The ruler of the island of Bali at that time was Raja Dalem Waturenggong around 16th century.

In the Dwijendra Tattwa explained that at one time Dang Hyang Nirartha come back to Rambut Siwi temple in his trip around the island of Bali, where the first when he had just arrived in Bali from Blambangan (Java island) on Çaka 1411 or 1489 AD, he stopped at this place.

After being in Rambut Siwi temple for a while, then he went on his journey that leads toward East (Purwa). Before leaving, DangHyang Niratha performed prayers "Surya Cewana" with people who were there. After sprinkling holy water (tirtha) against the people involved in doing worship, then he walked out of the temple walked toward the East. The journey traces the South coast of the island accompanied by some of the followers.

In this journey, Dang Hyang Nirartha really enjoyed and was impressed with the beauty of the southern coast of the island of Bali with a natural beauty that is very exciting. He imagined how greatness Sanghyang Widhi Wasa (God Almighty) who has created the universe and everything in it that can give life to mankind. In his heart whispered that the duty of every creature in this world, especially human beings to express gratitude to God for everything he has been pleased to create it.

After a long walk and eventually he arrived and stopped at a beach, the beach consists of rocks and there are also spring, that rocks were called Gili Beo, "Gili" means small island and "Beo" means bird, so Gili Beo means small island of rocks that resembles a bird.

In this area had been led by Bendesa Beraban Sakti who is ruler in Beraban village, then that's where Dang Hyang Nirartha stops and rest, after a few moments of rest and then came the fishermen who wanted to meet with him and bring a variety of offerings for him.

Then after the afternoon, the fishermen begged him to spend the night at their house. However, all the petition was refused by him and he preferred to spend the night in Gili Beo because from there he can enjoy the fresh air, beautiful scenery and release the views freely in all directions.

On the evening before he went to rest, he gave teachings on religion, morals, and teachings of other virtues to the people who came to there, but Dang Hyang Nirartha presence was not favored by Bendesa Beraban Sakti because its teachings are not in accordance with the teachings propagated by Dang Hyang Nirartha, and this led Bendesa Beraban Sakti to become angry and invites his followers to expel DangHyang Nirartha of the region.

Then, to protect himself from the aggression of Bendesa Beraban Sakti, DangHyang Nirartha move Gili Beo to the sea and he created the snake from his shawl to always keep Gili Beo safe from malicious attacks. And after that moment Gili Beo changed its name to Tanah Lot (land in the sea).

After seeing the miracle of DangHyang Nirartha, Bendesa Beraban Sakti finally succumbed and became a faithful follower of Him to teach Hinduism to the population, and for his services Dang Hyang Nirartha provide a Kris to Bendesa Beraban Sakti before continuing his journey (The Kris or Keris is a distinctive, asymmetrical dagger from Indonesia. Both a weapon and spiritual object, krises are often considered to possess magical powers. The earliest krises known were made around 1360 AD and most probably spread from the island of throughout Southeast Asia).

The Kris given to Bendesa Beraban Sakti is called Jaramenara or Kris Ki Baru Gajah, until now The Keris Ki Baru Gajah still exist and saved as well sanctified in Puri Kediri, Tabanan.

At the time DangHyang Nirartha advised the people to build a temple (parahyangan) on Tanah Lot because according to his sacred inner vibrations and supernatural guidance that this place is a good place for a worship to the God, from this place then people can adore greatness of God in manifestation as the God of the sea to invoke the safety and welfare of the world.

There are 8 holy temples in surrounding Tanah Lot area, each with its own function and purpose.
  • Penataran Temple - situated in the north of the Tanah Lot temple, it is a place to pray to God and its manifestation for happiness and wellness.
  • Penyawang Temple - situated on the west side of Penataran Temple, it is an alternative place to pray during high tide when people can't reach Tanah Lot temple, they can pray from here for the same purpose.
  • Jero Kandang Temple - situated around 100 meters on the west side of Penyawang temple, it is built to pray for the wellness of the cattle and crops.
  • Enjung Galuh Temple - situated close to Jero Kandang Temple, it is built for the goddess of prosperity Dewi Sri for the people to pray for their land's fertility.
  • Batu Bolong Temple - situated around 100 meters on the west side of Enjung Galuh Temple. Batu Bolong means hollow rock in Balinese. It is used to hold Melasti ceremony or purifying ceremony.
  • Batu Mejan Temple - situated around 100 meters on the west side of Batu Bolong Temple, also called Beji Temple. Beji means sacred spring in Balinese. People believe that the holy water from this spring can purify anything from the bad.
  • Tri Antaka Monument - this monument was built to honor 3 heroic men: I Gusti Ketut Kereg, I Wayan Kamias and I Nyoman Regug, who had battled and defended the island against the NICA (Netherlands Indies Civil Administration) armed force on June 1946 in Tanah Lot territory.
  • Pakendungan Temple - situated on the west side, around 300 meters from Tanah Lot Temple. Pekendungan temple is the place where Dang Hyang Nirartha meditated once before and in this temple the holy keris was given to Bendesa Beraban Sakti.

In 1980th the Tanah Lot temple's rock face was beginning to crumble and the area around and inside the Tanah Lot temple started to become dangerous. There were some projects supported by Japan and Germany carried out to conserve the historic temple.